Konflik Antar-etnis di Mali, 95 Orang Tewas Dalam Sehari

Sedikitnya 95 orang tewas dalam serangan kemarin di sebuah desa etnis Dogon di Mali bagian tengah. Pejabat setempat mengatakan, sembilan belas lainnya dinyatakan hilang sejak pria bersenjata tak dikenal menyerang desa Sobane-Kou di Kota Mopti.

Para penyerang juga dilaporkan membunuh hewan dan membakar rumah-rumah. Pemerintah Mali menambahkan, penyelidikan saat ini sedang dilakukan di wilayah yang memiliki riwayat konflik antar-etnis tersebut.

“Desa Dogon telah hampir musnah,” kata sumber keamanan Mali sebagaimana dilansir dari laman Al Jazeera pada Selasa (11/6).

Seorang korban selamat, Amadou Togo, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa “sekitar 50 pria bersenjata lengkap datang dengan sepeda motor dan pickup.

Togo menambahkan, para pelaku awalnya mengepung desa kemudian menyerang siapapun yang mencoba melarikan diri.

“Tidak ada yang selamat – wanita, anak-anak, orang tua,” tuturnya.

Seorang pejabat setempat mengatakan kepada AFP, “Saat ini terdapat 95 warga sipil kami yang tewas. Jenazahnya dibakar, kami terus mencari orang yang lain.”

Desa itu memiliki sekitar 300 penduduk, menurut seorang pejabat yang berbicara kepada AFP dengan syarat anonim.

Hingga saat ini, belum terdapat pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut, namun sebagian orang menuduh etnis Fulani berada di balik serangan.

Fulani pada dasarnya adalah peternak dan pedagang, sedangkan Dogon adalah petani yang menetap secara tradisional di Mali.

Adanya kekerasan antara kedua etnis telah memperparah situasi keamanan yang sudah mengerikan di daerah tersebut. Padahal tempat tinggal mereka juga telah digunakan sebagai pangkalan oleh kelompok-kelompok bersenjata yang memiliki ikatan dengan al-Qaidah dan ISIS.

“Masalah-masalah teroris… telah bercampur dengan ketegangan antar-komunitas yang sudah lama terjadi,” kata Paul Melly, seorang konsultan di Chatham House’s Africa Programme.

“Ini telah memupuk ketegangan antara komunitas pertanian Dogon dan Bambara, di satu sisi, dan penggembala ternak Peul (Fulani) di sisi lain. Masalahnya tidak mudah untuk dipecahkan. Populasi meningkat, perubahan iklim mengancam lingkungan; (kelompok ekstremis) menyampaikan keunggulan ideologis, dan sekarang ada banyak pembunuhan, yang memicu ketidakpercayaan.”

Misi PBB di Mali bernama MINUSMA pernah mengumumkan setidaknya terdapat 488 kematian dalam serangan terhadap etnis Fulani di wilayah tengah Kota Mopti dan Segou sejak Januari 2018.

kunjungi pokerdell.com untuk mengetahui lebih jelas tentang agen poker online terpercaya